Sebuah Cerita Sebelum Menikah

Sebelum memutuskan untuk menikah dan berkeluarga, kalian yang sekarang masih jomblo ataupun sudah memiliki pacara dan yakin untuk melanjutkan ke jenjang yang sah dan lebih diridhoi Allah, Alangkah baiknya kalian pikirkan lagi, bahwa menikah itu tidak hanya soal tidur bareng, hidup bareng ataupun makan bareng sambil suap-suapan.

Berkeluarga merupakan salah satu sunah Nabi Muhammad SAW bagi kita yang beragama Islam, karena dengan menikah dan berkeluarga lahirlah generasi penerus yang akan terus memakmurkan bangsa dan agama hingga nanti kiamat menjelang. Oleh sebab itu menikahlah agar engkau mendapatkan pahala sunahnya Nabi Muhammad SAW, dan kejombloanmu hilang dengan sendirinya. Menikah juga dapat menghindarkan kita dari perbuatan zina yang dilarang oleh agama maupun oleh negara serta adat istiadat yang ada di Indonesia.
Meskipun begitu, menikah tidaklah hanya soal hidup bersama antara suami dan istri beserta dengan anak-anaknya. Menikah juga tentang bagaimana menjalani kehidupan bersama yang harmonis, dalam islam disebut dengan keluarga sakinah, mawadah dan rohmah.  Untuk mencapai semua itu dibutuhkan pengertian antar sang suami dan istri agar semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

menikah via unsplash
Nah, dalam cerita yang aku kutip di bawah ini akan menceritakan sebuah kisah tentang seorang pria yang hendak menikah dan menceritakan seperti apa sang calon istri kepada Ibundanya tercinta. Meskipun sang calon istri memiliki banyak kekurangan namun nasehat sang Ibu begitu mendalam dan patut direnungkan terutama oleh para calon suami dan umumnya mereka yang akan menikah. Karena ada salah satu ajaran dalam cerita ini yang sampai sekarang masih aku pegang sebelum aku menikah hingga sekarang setelah aku menikah dengan wanita yang aku cintai.
Meskipun ada ajaran bagus dalam cerita ini, tapi aku pikir itu ajaran dari sang ibu untuk anaknya itu spesial hanya untuk para pria, karena bila para wanita yang tidak tau diri mengetahui kisah ini maka dia akan seenaknya saja dan tidak taat kepada para suami.
Kisah ini aku dapatkan sejak tahun 2016, aku lupa dari mana sumbernya waktu itu. Aku copast cerita ini ke dalam drive yang aku percaya suatu hari aku membutuhkan bacaan seperti ini sebagai pengingat ketika aku sudah menikah. Dan ternyata memang setelah menikah aku masih ingat dengan percakapan sang anak bersama Ibunya dalam cerita yang akan pembaca baca di bawah ini. Akupun masih mengamalkan semua yang ada dalam cerita ini semenjak awal aku menikah hingga kini, dan aku berharap hingga kelak ajalku menjemput. 

Selamat membaca kisahnya dan semoga bermanfaat.

Bu..., Calon Isteriku Gak Bisa Masak--

Di Subuh yang dingin...ku dapati Ibu sudah sibuk memasak di dapur.

"Ibu masak apa? Bisa ku bantu?"

"Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan Bapak" sahutnya.

"Alhamdulillah.. mantab pasti.. Eh Bu.. calon istriku kayaknya dia tidak bisa masak loh..."

"Iya terus kenapa..?" Sahut Ibu.

"Ya tidak kenapa-kenapa sih Bu.. hanya cerita saja, biar Ibu tak kecewa, hehehe"
Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?"
Aku menatap Ibu dengan tak paham saat ibu mengatakan "Apa kamu pikir bahwa memasak, mencuci, menyapu, mengurus rumah dan lain lain itu kewajiban Wanita?"

Lalu beliau melanjutkan, "Ketahuilah Nak, itu semua adalah kewajiban Lelaki. Kewajiban kamu nanti kalau sudah beristri." katanya sambil menyentil hidungku.

"Lho, bukankah Ibu setiap hari melakukannya?"

Aku masih tak paham juga.

                     Baca juga : Kisah Malam Pertama

"Kewajiban Istri adalah taat dan mencari ridho Suami." kata Ibu.

"Karena Bapakmu mungkin tidak bisa mengurusi rumah, maka Ibu bantu mengurusi semuanya. Bukan atas nama kewajiban, tetapi sebagai wujud cinta dan juga wujud Istri yang mencari ridho Suaminya"

Saya makin bingung Bu.

"Baik, anandaku sayang. Ini ilmu buat kamu yang mau menikah."

Beliau berbalik menatap mataku.

"Menurutmu, pengertian nafkah itu seperti apa? Bukankah kewajiban Lelaki untuk menafkahi Istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan?" tanya Ibu.

"Iya tentu saja Bu.."

"Pakaian yang bersih adalah nafkah. Sehingga mencuci adalah kewajiban Suami. Makanan adalah nafkah. Maka kalau masih berupa beras, itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan. Sehingga memasak adalah kewajiban Suami. Lalu menyiapkan rumah tinggal adalah kewajiban Suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban Suami."

Mataku membelalak mendengar uraian Bundaku yang cerdas dan kebanggaanku ini.

"Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban Suami. Kenapa Ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut Bapak sekalipun?"

"Karena Ibu juga seorang Istri yang mencari ridho dari Suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena Ibu mencintai Ayahmu, mana mungkin Ibu tega menyuruh Ayahmu melakukan semuanya. Jika Ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi. Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk Ibu."

Aku hanya diam terpesona.

"Pernah dengar cerita Fatimah yang meminta pembantu kepada Ayahandanya, Nabi, karena tangannya lebam menumbuk tepung? Tapi Nabi tidak memberinya. Atau pernah dengar juga saat Umar bin Khatab diomeli Istrinya? Umar diam saja karena beliau tahu betul bahwa wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam-macam yang sebenarnya itu bukanlah tugas si Istri."

"Iya Buu..."

Aku mulai paham,

"Jadi Laki-Laki selama ini salah sangka ya Bu, seharusnya setiap Lelaki berterimakasih pada Istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah Istri."

Ibuku tersenyum.

"Eh. Pertanyaanku lagi Bu, kenapa Ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban Ibu?"

"Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita, Nak. Istri menuntut Suami, atau sebaliknya. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mau sama mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk berusaha melakukan yang terbaik satu sama lain. Yang Wanita sebaik mungkin membantu Suaminya. Yang Lelaki sebaik mungkin membantu Istrinya. Toh impiannya rumah tangga sampai Surga"

"MasyaAllah.... eeh kalo calon istriku tahu hal ini lalu dia jadi malas ngapa-ngapain, gimana Bu?"

"Wanita beragama yang baik tentu tahu bahwa ia harus mencari keridhoan Suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu. Sedang Lelaki beragama yang baik tentu juga tahu bahwa Istrinya telah banyak membantu. Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya."


Itulah kisah yang selama ini aku simpan di drive dan sekarang aku bagikan kepada para pembaca, semoga saja bermanfaat dan menginspirasi bagi pembaca yang akan menikah ataupun yang telah menikah. Bagi yang tau sumber cerita ini silahkan komen di bawah agar aku bisa mencantumkannya di tulisan ini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sebuah Cerita Sebelum Menikah"

Post a comment

Terima kasih telah mampir dan silahkan tinggalkan jejak (komentar) Anda di bawah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel