Di Ruang Tamu

Adegan pertama terjadi di pesantren tempat dulu aku belajar, tapi kali ini aku berposisi sebagai seorang tamu di pesantren itu. Aku nginep di tempat penginapan (ruang tamu) santri putra yang berada di dekat rumah bapak Kyai. Selain aku ada juga temen lain yang juga nginep di tempat itu. Namun aku heran kenapa ruang tamu itu lebih seperti kamar hotel daripada kamar tamu yang dulu sering aku bersihkan ketika aku masih jadi santri disana. Dalam satu ruangan ada dua tempat tidur yang terpisah dengan penataan beneran seperti di hotel yang berbintang.


Adegan kedua berganti di lapangan, dimana aku bermain bola dengan salah satu anak pak Kyai yang gendut, kita main bola serasa seperti ketika jaman menjadi santri dulu. Setelah main bola adegan berganti dengan acara reuni yang nampak begitu singkat tapi lancar dan perfect.

Lalu suasana berganti dimana aku sendirian dan kondisi remang-remang tidak jelas, kemudian ada bola yang menggelinding ke arahku. Bola itu seperti bola yang sebelumnya aku gunakan untuk bermain dengan anaknya pak Kyai yang ditinggal begitu saja di pinggir lapangan tanpa ada yang membawanya. Ketika aku berusaha mengambil bola itu tiba-tiba dari arah belakang ada anak-anak kecil yang sepertinya adalah santri yang duluan nyerobot ngambil bola yang rencananya akan aku ambil itu. Baru beberapa kali mereka menendang bola itu kemudia aku menyuruh mereka untuk menyerahkan bola itu kepadaku. Dengan suara keras aku menyuruh mereka untuk memberikan bola itu kepadaku. Mereka bukannya menyerahakn bola itu namun menendang bola itu ke arahku, bola itu ditendang oleh anak yang lebih kecil. Bola itu menggelinding ke arahku dengan kencang dan membentur kakiku dan seketika itu pula bola itu mental dan melambung tinggi ke pinggir lapangan. Lalu aku mengambil bola itu yang menggelinding ke pinggir lapangan yang posisi pinggir lapangan itu menurun seperti melengkung.

Setelah aku ambil bolanya aku bawa ke ruang tamu rumah pak Kyai, namun sebelum aku masuk aku melihat istri pak Kyai sedang duduk di ruang tamu dan seketika itupula aku mengurungkan diri untuk membuka pintu depan rumah pak Kyai dan memilih untuk membawa bola itu masuk ke ruang tamu yang aku tempati melewati sisi belakang rumah pak Kyai, yaitu lewat dapur.

Entah kenapa suasananya menjadi melewati kuburan yang sepi, seketika itupula aku merasa merinding dan ada perasaan takut seperti waktu dulu aku pramuka mencari jejak di siang hari melewati kuburan yang ada di dalam komplek panti asuhan di salah satu desa di dekat pesantren. Perasan merinding itu sama persis dengan perasaat yang aku alami saat mimpi semalam ini.

Setelah melewati kuburuan, ketika aku hendak melewati dapur aku melihat ada mbok dapur yang sedang berada di dekat sumur (sepertinya mencuci), aku tetap ngeluyur melewati mbok dapur dan membuka pagar yang memisahkan ruang dapur dengan ruang tamu tempat aku nginep. Saat pintu gerbang yang memisahkan dapur dan ruang tamu aku buka tiba-tiba dari arah samping ada bu Kyai yang mengagetkan aku dengan pertanyaan "mau apa?" seketika itu pula aku jawab "mau ambil barang-barang" dan setelah itu adegan dalam mimpiku-pun berakhir

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Di Ruang Tamu"

Post a comment

Terima kasih telah mampir dan silahkan tinggalkan jejak (komentar) Anda di bawah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel